Ayah, Jangan Engkau Salah Mendidikku: Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak Oleh: Ustaz Bendri Jaisyurrahman Peran seorang ayah sebagai al-qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga adalah membimbing bahtera keluarga menuju tujuan akhir: surga sekeluarga. Dalam upaya ini, kita wajib belajar agar tidak melakukan kesalahan yang merusak, khususnya kesalahan yang bersumber dari kebodohan atau ketidaktahuan kita terhadap petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Kita meyakini Islam adalah ad-dinul syamil wal mutakaamil —agama yang lengkap dan sempurna. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian." (HR. Thabrani). Ini menegaskan bahwa segala panduan, termasuk peran ayah dalam pendidikan, telah termaktub dalam Islam. Fitrah Anak dan Dominasi Peran Ayah Setiap anak dilahirkan membawa fitrah kebaikan dan potensi suci, sebagaimana hadis: "Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam kead...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Mendidik Anak dengan Jejak Ketakwaan Ust. H. Ridwan Hamidi, Lc., M.P.I., M.A. Kalau kita bicara tentang mendidik anak, dalam bahasa Inggris ada istilah parenting . Parent itu sebetulnya orang tua, ya, bukan anak. Artinya, yang paling penting untuk belajar dan disiapkan adalah orang tuanya. Makanya, kalau kita bicara tentang tema-tema parenting , yang paling perlu punya ilmu, yang paling perlu belajar adalah orang tuanya, sebelum anak-anak. Nah, di sini menunjukkan pada kita pentingnya ilmu tentang mendidik anak. Karena kita lihat bahwa semua kita sepakat, orang yang paling bertanggung jawab dalam pendidikan anak adalah orang tua. Tapi sayangnya, di waktu yang sama, orang tua adalah orang yang paling tidak disiapkan untuk menjadi orang tua yang siap mendidik anak. Dan itu bisa kita lihat dalam kenyataan di kehidupan kita sehari-hari. Mungkin tidak usah jauh-jauh, sebagian kita mungkin ada yang menjadi suami tapi belum pernah belajar tentang bagaimana caranya menjadi seorang s...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ayahku, Ungkapkan Cintamu: Rumus "BABE" untuk Anak Betah di Sisi Ayah Oleh: Ustaz Bendri Jaisyurrahman Keinginan setiap orang tua adalah memiliki anak yang saleh, menerima nasihat, dan betah berada di rumah, dekat dengan keluarganya. Namun, hambatan pertama dalam menasihati anak adalah ketika secara fisik atau hati, anak sudah jauh dari kita. Dalam ilmu parenting , terdapat sebuah kaidah fundamental: "Ikat hatinya sebelum kamu memberi nasihat" ( At-ta’lif qabla at-ta’rif ), atau dalam bahasa Inggris, Connection before Correction . Sehebat apa pun materi dakwah atau nasihat yang disampaikan, jika koneksi hati antara ayah dan anak terputus, pesan tersebut tidak akan sampai. Ciri utama anak yang tidak terkoneksi secara emosional adalah anak yang tidak betah di rumah. Mereka mencari figur atau suasana lain di luar, karena mereka tidak mendapatkan sosok ayah yang mampu menunjukkan kedekatan emosi. Lantas, bagaimana menjadi ayah yang membuat anak betah? Ada rumus sederh...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Membangun Surga di Rumah: Kekuatan Senyum dan Tawa dalam Keluarga Oleh: Ustaz Benri Jaisyurrahman Rumah kerap kita idam-idamkan sebagai Baiti Jannati , atau rumahku surgaku. Namun, surga bukanlah sekadar bangunan megah dengan fasilitas mewah. Surga adalah suasana—tempat di mana wajah-wajah berseri, dipenuhi senyum dan tawa . Jika kita melihat penggambaran Allah tentang surga dalam Al-Qur'an, salah satu ciri utama penghuninya adalah kebahagiaan. Dalam Surah Az-Zukhruf ayat 70, Allah berfirman, "Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan (akan dibikin senyum dan tawa)." Demikian juga dalam Surah Abasa (38-39), wajah-wajah penghuni surga digambarkan "berseri-seri, tertawa gembira ria." Ayat-ayat ini memberi petunjuk penting: ciri kebahagiaan sejati adalah tawa . Jika kita bercita-cita rumah kita menjadi surga, tetapi suasana di dalamnya tegang, serius, dan minim senyum, maka inilah alasan mengapa banyak anak tidak betah di rumah. Rumah...