Ayah, Jangan Engkau Salah Mendidikku: Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak

Oleh: Ustaz Bendri Jaisyurrahman


Peran seorang ayah sebagai al-qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga adalah membimbing bahtera keluarga menuju tujuan akhir: surga sekeluarga. Dalam upaya ini, kita wajib belajar agar tidak melakukan kesalahan yang merusak, khususnya kesalahan yang bersumber dari kebodohan atau ketidaktahuan kita terhadap petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Kita meyakini Islam adalah ad-dinul syamil wal mutakaamil—agama yang lengkap dan sempurna. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian." (HR. Thabrani). Ini menegaskan bahwa segala panduan, termasuk peran ayah dalam pendidikan, telah termaktub dalam Islam.

Fitrah Anak dan Dominasi Peran Ayah

Setiap anak dilahirkan membawa fitrah kebaikan dan potensi suci, sebagaimana hadis: "Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim).

Menariknya, redaksi hadis ini menggunakan kata "abawahu" (dari kata abun atau ayah), bukan walidahu (yang lebih merujuk pada peran ibu dalam melahirkan). Para ulama bahasa menyimpulkan, penggunaan kata abawahu mengisyaratkan bahwa ayahlah yang lebih dominan dalam peran pengasuhan dan pendidikan yang menentukan arah fitrah anak.

Kesalahan fatal yang dilakukan ayah rentan menyimpangkan fitrah anak. "Menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi" dalam konteks kekinian dapat diartikan sebagai memiliki sifat atau pemikiran yang serupa dengan mereka. Contohnya, sifat Yahudi yang diceritakan dalam Al-Qur'an, seperti ngeyel, membantah, dan menggugat agama, bisa diwarisi oleh anak-anak Muslim.

Dampak Fatal Kesalahan Pengasuhan

Kesalahan pengasuhan dapat berujung pada dua konsekuensi berat:

  1. Hutang Pengasuhan: Perilaku tidak tepat yang seharusnya diberikan kepada anak di masa kecil, yang baru "ditagih" saat anak dewasa. Contohnya, anak yang tidak mendapatkan stimulasi keayahan yang tepat menjadi suami yang kasar atau laki-laki yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan karena tidak pernah diajarkan memimpin.

  2. Luka Pengasuhan: Goresan psikis yang masuk ke dalam perasaan anak, membentuk persepsi diri, dan memicu perilaku agresif, emosional, atau pendendam di masa depan. Suami yang emosional atau kasar kepada istri, meskipun mengetahui hadis tentang keutamaan berbuat baik pada keluarga, seringkali terikat pada pola asuh keras dari ayahnya.


Kesalahan Fatal: Mendidik Anak Menjadi Hamba Kita, Bukan Hamba Allah

Dari berbagai kesalahan, ada satu kesalahan fatal yang bersifat paradigma (al-khoto at-tauqifi) dan berpotensi menyeret kita pada dosa syirik: Mendidik anak untuk menjadi hamba kita, bukan hamba Allah.

Allah dengan tegas melarang hal ini, bahkan kepada seorang Nabi: "Tidak patut bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Kitab, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia: 'Jadilah kamu penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.' Akan tetapi (ia berkata): 'Jadilah kamu orang-orang Rabbani..."' (QS. Ali Imran: 79).

Secara verbal, tentu kita tidak mungkin mengatakan, "Jadilah hambaku." Namun, secara metode pengasuhan, kita sering melakukannya tanpa sadar.

Ciri-Ciri Mendidik Anak Menjadi "Hamba Ayah"

Kesalahan ini tampak dalam dua hal:

1. Anak Beramal Hanya untuk Kita (Bukan karena Allah)

Anak dididik untuk beramal atau bersikap hanya agar Ayah senang, Umi senang, atau karena tidak enak pada orang tua yang dikenal sebagai ustadz atau dai.

Ini terlihat ketika:

  • Kita lebih sering bertanya, "Apa kata Abi?" dibandingkan "Apa kata Allah dan Rasul?"

  • Anak beribadah, salat, atau membaca Al-Qur'an semata-mata untuk menyenangkan hati orang tua, bukan karena tauhid (kesadaran bahwa Allah mengawasi dan kepada-Nya tempat meminta).

Kisah dai cilik di Aceh (sebut saja Abdullah) menjadi contoh tragis. Karena dipaksa dan hak bermainnya dirampas demi menjadi ustad cilik oleh ayahnya, begitu sang ayah wafat, ia melepaskan semua identitas agamanya dan berkata, "Yang pengen jadi ustad kan Abah, bukan saya. Abah sudah meninggal, selesai tanggung jawab saya." Ini menunjukkan ia dididik menjadi "hamba Abah," bukan hamba Allah.

2. Memaksakan Penyeragaman Karakter (Mengabaikan Keunikan Fitrah)

Kita sering memaksakan anak memiliki karakter yang seragam—harus keras seperti Umar, atau harus pintar bicara. Padahal, Allah menciptakan setiap anak dengan keunikan tabiat dan karakter yang berbeda.

Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik dalam menjaga keunikan sahabat:

  • Abu Bakar: Lembut, perasa (melankolis), dan mudah menangis saat membaca Al-Qur'an. Rasulullah tidak menyalahkannya.

  • Umar bin Khattab: Keras, tegas, dan tidak mengenal wilayah abu-abu.

  • Utsman bin Affan: Pemalu (bahkan lebih pemalu dari gadis pingitan) dan sedikit berbicara.

  • Nu'aiman Al-Anshori: Sangat kocak, penuh canda tawa, dan berani mengerjai orang (namun termasuk Ahlul Badr).

Rasulullah tidak pernah menyuruh Abu Bakar menjadi seperti Umar, atau Utsman menjadi seperti Nu'aiman. Beliau membiarkan tabiat unik mereka berkembang, namun semua tercelup dengan pewarnaan Allah (Sibghah Allah)—sehingga sekalem-kalemnya Abu Bakar, ia akan tegas membela agama, dan sekeras-kerasnya Umar, ia tetap bersikap lembut pada istrinya.

Jangan sampai kita melabeli anak yang peka sebagai "cengeng" atau anak yang pendiam sebagai "pemalu yang bermasalah". Bisa jadi anak yang peka adalah Abu Bakar zaman ini, dan anak yang pendiam adalah Utsman di masa kini.

Tugas kita adalah: Mendidik mereka menjadi hamba Allah sesuai dengan karakteristik uniknya, bukan mencetak mereka agar persis seperti kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini