Ayahku, Ungkapkan Cintamu: Rumus "BABE" untuk Anak Betah di Sisi Ayah
Oleh: Ustaz Bendri Jaisyurrahman
Keinginan setiap orang tua adalah memiliki anak yang saleh, menerima nasihat, dan betah berada di rumah, dekat dengan keluarganya. Namun, hambatan pertama dalam menasihati anak adalah ketika secara fisik atau hati, anak sudah jauh dari kita.
Dalam ilmu parenting, terdapat sebuah kaidah fundamental: "Ikat hatinya sebelum kamu memberi nasihat" (At-ta’lif qabla at-ta’rif), atau dalam bahasa Inggris, Connection before Correction. Sehebat apa pun materi dakwah atau nasihat yang disampaikan, jika koneksi hati antara ayah dan anak terputus, pesan tersebut tidak akan sampai.
Ciri utama anak yang tidak terkoneksi secara emosional adalah anak yang tidak betah di rumah. Mereka mencari figur atau suasana lain di luar, karena mereka tidak mendapatkan sosok ayah yang mampu menunjukkan kedekatan emosi.
Lantas, bagaimana menjadi ayah yang membuat anak betah? Ada rumus sederhana yang bisa kita jadikan panduan: B-A-B-E.
1. B: Jadilah Ayah yang Baik
Ayah yang "baik" menurut pandangan anak hanya memiliki tiga ciri utama. Dengan memenuhi tiga hal ini, kita menjamin anak tidak akan kabur secara fisik maupun psikis.
A. Jangan Kasar (Fisik dan Mental)
Kekasaran, baik membentak dengan desibel suara tinggi, mencubit, atau memukul, sudah pasti membuat anak tidak nyaman dan menjauh.
Allah mengingatkan Nabi Muhammad SAW dalam Surah Ali Imran ayat 159: "Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu."
Sikap kasar rentan membuat anak munafik secara psikis. Anak yang takut akan hukuman keras cenderung berbohong untuk mengamankan diri. Mereka bisa saja terlihat saleh di hadapan kita, tetapi sengaja berbuat salah saat jauh dari pengawasan. Ini adalah tanda kepatuhan yang didasari paksaan, bukan kesadaran, dan sering menyimpan amarah.
Tegas, Bukan Keras. Islam adalah ad-dinul wasath (agama pertengahan). Kita tidak mengambil kutub Tiger Parenting (keras dan kaku) maupun Rabbit Parenting (apa saja boleh). Kita harus bersikap tegas tanpa kekasaran. Ketegasan adalah mengingatkan anak kepada aturan yang disepakati, tanpa melukai jiwanya. Sebagaimana makna sakinah (ketenangan) yang oleh sebagian ulama dikaitkan dengan sikkin (pisau) dalam QS. Yusuf: 31, yang berarti memotong tanpa rasa sakit. Pastikan ayah tegas tanpa meninggalkan trauma.
B. Jangan Cuek (Jadikan Anak Prioritas)
Pengabaian adalah bentuk hukuman yang berat. Dalam Islam, hamba yang diabaikan Allah di hari kiamat adalah karena dosanya besar, menunjukkan betapa beratnya diabaikan.
Cuek (dikacangin) sangat menyakitkan bagi anak. Ketika anak datang untuk bercerita namun kita tolak dengan kata-kata dingin, "sana, ah...", kita menyakiti jiwa mereka. Salah satu kezaliman orang tua, menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, adalah bersikap cuek terhadap buah hati.
Di antara ciri pengabaian:
Menggunakan kata "nanti". Bagi anak, "nanti" adalah satuan waktu yang paling lama, di atas detik, menit, jam, bahkan abad. Jika berjanji, tentukan waktu yang konkret dan tepatilah.
Tidak fokus saat interaksi. Ketika anak berbicara, berikan respons pertama dengan tatapan mata penuh cinta, membuat mereka merasa didengarkan dan diperhatikan.
Anak-anak mencari perhatian di gadget atau media sosial karena di sana mereka mendapatkan like dan komen yang instan. Jika rumah tak memberikan perhatian, mereka akan lari ke "perhatian" dari luar.
C. Jangan Pelit (Memberi dan Apresiasi)
Pelit, yang merupakan manifestasi keegoisan, membuat anak menjauh. Pelit bukan hanya soal uang, tetapi juga jarang memberi apresiasi dan memenuhi kebutuhan dasar. Meskipun tidak semua permintaan harus dipenuhi, sikap yang selalu menolak menunjukkan minimnya kemurahan hati.
2. A: Jadilah Ayah yang Asik
Setelah menjadi ayah yang baik, ayah harus menjadi ayah yang asik. "Asik" bagi anak berarti kita mampu membuat mereka tersenyum dan tertawa.
Kita bersaing dengan gadget yang mampu membuat anak gembira. Jika ayah kaku dan serius (seperti penggambaran malaikat penjaga neraka, ghilaazhun syidaad, keras dan kaku), anak tidak akan betah.
Para sahabat, termasuk Zaid bin Tsabit (salah satu ulama ahli fikih dan pengumpul Al-Qur'an), dikenal sebagai sosok yang gagah dan berwibawa di hadapan kaumnya, namun "lebih lucu, kocak, dan menyenangkan saat di rumah." Ini adalah teladan yang harus kita contoh.
Canda tawa di rumah bernilai pahala. Nabi SAW bersabda, "Segala sesuatu yang tidak ada zikir kepada Allah di dalamnya, sia-sia... kecuali... canda tawa seorang kepada anggota keluarga." (HR. An-Nasai). Canda tawa adalah sesuatu yang dibolehkan, selama tidak berlebihan (israf).
Ayah perlu melatih sense of humor. Tidak semua obrolan harus dijawab dengan ayat Al-Qur'an atau analisis berat. Anak juga butuh rehat jiwanya. Di pagi hari, Rasulullah SAW selalu melakukan screening emosi, bahkan bertanya tentang mimpi, untuk memastikan setiap anggota keluarga memulai hari dengan mood positif.
3. B: Jadilah Ayah yang Bernilai/Bergizi
Ayah yang hanya baik dan asik, namun tanpa nilai, adalah Ayah Ciki (Ayah MSG)—mengenyangkan, tetapi tidak bergizi dan lama-lama bisa sakit.
Ayah harus punya standar nilai yang jelas. Ayah boleh lucu, tetapi jika azan berkumandang, candaan harus berhenti. Ayah boleh asik, tetapi jika anak mengolok-olok agama atau melakukan perbuatan haram (seperti main jelangkung), ayah harus tahu cara melarangnya.
Seorang ayah bernilai harus:
Banyak Ilmu (Upgrade Diri): Ayah harus menjadi rujukan. Anak harus bisa bertanya kepada ayah tentang agama dan kehidupan, dan ayah bisa menjelaskan tanpa kebingungan.
Tegas pada Nilai: Ayah harus tahu batas. Ayah lucu, tapi bukan yang mengolok agama. Ayah harus mampu membedakan mana candaan yang mubah dan mana yang haram.
Jika ayah akrab tapi tidak punya nilai, anak rentan berbuat dosa karena dibiarkan.
4. E: Jadilah Ayah yang Empati
Empati adalah puncak koneksi, yaitu kemampuan untuk membuat anak merasa dirinya tidak sendiri.
Ayah empati menjalin komunikasi yang membuat anak merasa diperhatikan, dimulai dari tatapan mata penuh cinta dan latihan memuji.
Inti dari ilmu parenting adalah memastikan anak merasa terhubung dan dicintai. Ketika anak betah di sisi kita karena mendapatkan empat aspek B-A-B-E ini, nasihat akan mudah diterima, dan rumah kita akan benar-benar menjadi Baiti Jannati.
Komentar
Posting Komentar