Mendidik Anak dengan Jejak Ketakwaan

Ust. H. Ridwan Hamidi, Lc., M.P.I., M.A.

Kalau kita bicara tentang mendidik anak, dalam bahasa Inggris ada istilah parenting. Parent itu sebetulnya orang tua, ya, bukan anak. Artinya, yang paling penting untuk belajar dan disiapkan adalah orang tuanya. Makanya, kalau kita bicara tentang tema-tema parenting, yang paling perlu punya ilmu, yang paling perlu belajar adalah orang tuanya, sebelum anak-anak. Nah, di sini menunjukkan pada kita pentingnya ilmu tentang mendidik anak. Karena kita lihat bahwa semua kita sepakat, orang yang paling bertanggung jawab dalam pendidikan anak adalah orang tua. Tapi sayangnya, di waktu yang sama, orang tua adalah orang yang paling tidak disiapkan untuk menjadi orang tua yang siap mendidik anak.

Dan itu bisa kita lihat dalam kenyataan di kehidupan kita sehari-hari. Mungkin tidak usah jauh-jauh, sebagian kita mungkin ada yang menjadi suami tapi belum pernah belajar tentang bagaimana caranya menjadi seorang suami. Ada yang menjadi istri belum pernah belajar bagaimana menjadi istri yang baik. Ada yang menjadi ayah itu karena kebetulan punya anak, tetapi belum pernah belajar bagaimana seharusnya menjadi seorang ayah. Demikian pula ada yang menjadi ibu tapi tidak pernah belajar, jadi ibu itu bagaimana sih supaya ibu itu bisa menjalankan fungsinya. Yang nanti kalau bicara tentang tema yang pernah kita singgung, ini persoalan keberfungsian. Fungsi, peran, dan tugas, baik itu ayah dan ibu. Ada yang fungsinya berjalan dengan baik, dan ada yang tidak berjalan. Maka ada persoalan keberfungsian ayah dan ibu.

Nah, dari semua itu, satu dari sekian banyak hal yang penting untuk dimiliki adalah ilmu, adalah pengetahuan, pemahaman bagaimana menjadi seorang ayah, menjadi seorang ibu. Karena tadi, tidak serta-merta begitu kita jadi ayah langsung bisa mendidik anak, tidak serta-merta menjadi ibu lalu bisa mendidik anak-anaknya, apalagi kalau pendidikan itu dimaknai dengan pendidikan yang utuh. Nah, kemudian Ramadan ini adalah kesempatan bagi kita untuk memanfaatkan momentum yang sangat luar biasa ini, di mana di situ ada jejak-jejak ketakwaan, ada nilai-nilai ketakwaan yang diajarkan selama bulan Ramadan ini. Kita manfaatkan untuk sekaligus mendidik anak-anak kita. Kalau kita sebagai orang tua, idealnya kita bicara yang berhubungan dengan yang namanya orang tua berhubungan dengan Ramadan, itu tidak hanya bicara untuk kepentingan pribadi, "saya puasa, puasa untuk kepentingan saya pribadi." Tapi saya sebagai seorang ayah juga berpikir, "gimana caranya anak-anak juga puasa, anak-anak juga sholat tarawih, anak-anak juga dilawati Al-Quran," bukan cuma sekedar saya membaca Al-Quran untuk kepentingan saya pribadi.

Dan ada sebuah hadis yang menceritakan bagaimana seorang sahabat perempuan yang namanya Rubai'i bintu Mu'awwid menceritakan bagaimana ketika puasa Asyura disyariatkan dan diwajibkan pada saat itu, beliau mengatakan, "Kami puasa, dan kami juga mengajarkan, mendidik anak-anak kami juga untuk puasa." Dan ada dinamikanya, ketika anak berpuasa, kemudian nangis, rewel, marah-marah, dan seterusnya, ada upaya dari orang tua untuk mengkondisikan agar anaknya siap untuk melanjutkan puasa dengan berbagai cara. Nah, ini mengajarkan kepada kita peran orang tua untuk membimbing anaknya supaya bisa mengerjakan kewajiban syariat ini, yang tidak serta-merta anak langsung terampil, langsung bisa mengerjakan ibadah tersebut. Kadang-kadang ada suasana tangis, kemudian ada suasana marah-marah, rewel, dan suasana yang memang bagian dari perjalanan kehidupan seorang anak.

Baik, Masya Allah, Ustaz. Kalau tadi dibahas bahwa Ramadan ini momen yang sangat baik, kalau di dalam Al-Quran sendiri kalau tidak salah di ayat yang keempat atau kelima disebutkan bahwa anak-anak dan istri itu merupakan ujian bagi sebagian suami atau sebagai bapak, bahkan kalau tidak salah di ayat itu juga disebutkan musuh. Nah, ini seperti yang Ustaz katakan tadi, bahwa yang perlu belajar itu sebenarnya si orang tuanya. Semakin anak bertambah, kalau kemarin disebutkan bahwa di episode yang kemarin semakin anak bertambah jumlahnya, dari sisi ekonomi harusnya semakin ada pemasukan tambahan juga begitu. Nah, kalau dari sisi pendidikan, ketika anak bertambah jadi 2, 3, dan 4 dan seterusnya, selain ekonomi yang ditambah, harusnya juga masalah ilmunya. Bagaimana dengan supaya tidak menjadi musuh atau menjadi fitnah ini, Ustadz?

Ya, ketika kita belajar tentang mendidik anak, maka sudah pasti salah satu bagian yang akan dipelajari adalah tahapan-tahapan perjalanan usia yang akan dilalui oleh seorang anak, dari mulai sejak dilahirkan, bahkan sebelum dilahirkan ketika masih dalam kandungan, sampai dengan anak itu menginjak usia pernikahan dan paska menikah. Itu bagian dari perjalanan yang akan dilalui. Maka sebagai orang tua, kita mulai dari diri kita sendiri, bahwa kita akan menjalani proses itu, dan nanti akan diteruskan sampai pada proses setelah punya anak. Nah, di masing-masing tahapan usia itu, ada tumbuh kembang, ada perkembangan yang terjadi pada anak, dan juga ada kerentanan bahkan krisis yang bisa terjadi pada masing-masing tahapan usia. Anak usia SD berbeda dengan anak usia SMA. Kalau bicara tentang misalnya rewel, agak nakal, tentu beda anak usia TK dengan usia SMA. Sama-sama anak kita, apalagi kalau anaknya banyak, ada yang di usia SD, dan SD-nya baru kelas 1, yang satu lagi kelas 5, yang satu lagi SMP kelas 2, yang berikutnya lagi ada SMA kelas 1, berikutnya lagi ada yang kuliah. Masing-masing tahapan usia itu pasti ada sesuatu yang khas, dan di situ ada kerentanan, sekaligus juga ada krisis yang bisa muncul di masing-masing tahapan.

Oleh karena itu, yang penting dimiliki oleh orang tua adalah bagaimana belajar untuk siap menghadapi persoalan-persoalan yang ada. Karena kalau sudah masuk kehidupan rumah tangga, tidak ada rumah tangga yang sepi dari masalah. Tidak mungkin kita menemukan ada rumah tangga tanpa masalah sama sekali. Semuanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan, semuanya berjalan dengan baik, tidak ada masalah sekecil apapun, itu mustahil. Pasti ada masalah. Nah, masalahnya apa, itu sesuatu yang tidak bisa kita prediksi. Kadang-kadang masalah itu muncul di tahapan usia tertentu dan masalahnya bisa bermacam-macam. Yang penting bagi kita adalah siap menghadapi itu. Nah, ilmu itu dimiliki untuk siap menghadapi. Kira-kira seperti kalau kita ujian, ujian sekolah. Misalnya besok hari Senin kita mau ujian dan diumumkan ujian jam 10. Nah, kalau diumumkan jam 10, sejak sekarang kita sudah siap, maka kita akan menghadapinya dengan tenang. Tiba-tiba ada pengumuman, dimajukan jadi jam 8. Kita tidak panik. Kita tetap tenang karena apa? Karena kita sudah siap ujian jam 10, jam 11, jam 12, atau jam 9, jam 8, bahkan jam 7 sekalipun. Kita siapkan apa? Kita sudah belajar dan kita sudah mempersiapkan diri. Nah, sebagai orang tua kita perlu mengambil posisi siap untuk menghadapi setiap bagian dari perjalanan kehidupan anak kita.

Nah, sayangnya memang proses belajar ini yang kadang pada sebagian orang berhenti, atau bahkan ada yang tidak belajar sama sekali. Ada yang belajar dalam porsi yang sangat sedikit dan sangat terbatas, sementara masalah yang akan dihadapi banyak. Ya, bayangkan kita kalau mau ujian, misalnya besok ujiannya matematika, pelajarannya dari bab sekian sampai bab sekian, maka kita akan persiapan. Sementara ujian kehidupan itu bisa sangat banyak, dan babnya kalau mau kita bicara bab, bab satu sampai bab terakhir, dari A sampai Z. Nah, kalau mendidik anak juga begitu. Mendidik anak kan ujiannya kita gak tahu. Ujian yang muncul dari anak itu berhubungan dengan pendidikan, berhubungan dengan ekonomi, berhubungan dengan sosial, berhubungan dengan banyak masalah yang kita gak tahu bagaimana yang akan muncul dalam ujian tersebut. Maka yang paling penting di awal itu adalah ilmunya, sehingga kita punya bekal menghadapi ujian tersebut.

Masya Allah, Ustadz. Ini kalau edukasinya, misalkan para peserta Bapak dan Ibu yang hadir di pagi hari ini semua sudah berkeluarga atau para peserta secara umum, bukan berarti edukasi ini tidak menakut-nakuti orang yang belum menikah, Ustadz. Jadi, betul edukasinya begini, yang penting itu ada batas minimal yang diketahui. Tidak harus begitu mau belajar, harus lengkap, sempurna, sampai detail sedetail-detailnya, sehingga membuat orang takut. Jadi paling tidak ada batas minimal, standar yang kita begitu ketemu masalah, kita sudah tahu, oh ini masalahnya masalah kesehatan mental. Sebagaimana juga kalau kita ketemu anak, begitu batuk-batuk bersin, ini masalahnya masalah kesehatan fisik. Meskipun kita bukan dokter, tapi kita paling tidak tahu rambu-rambu yang sifatnya...

Masya Allah. Tadi disebutkan bahwa Ramadan ini bukan ibadah personal saja bagi seorang Bapak atau sebagai suami. Dan kita tahu bersama bahwa yang namanya anak-anak itu adalah pembelajar ulung begitu kata orang. Jadi apa yang dilihat di orang tuanya, itu yang akan diikuti oleh anak-anaknya. Nah, bagaimana menanamkan kesadaran kepada kedua orang tua, khususnya si ayah atau si bapak, bahwa apa yang dia lakukan ini akan direkam oleh anaknya? Misalkan bagaimana kedermawanan sang ayah berbagi atau mungkin membawakan iftar di Ramadan, atau siap-siap pada saat mau berangkat sholat, khususnya mungkin mau berangkat tarawih dan seterusnya. Atau dia bermuamalah dengan anak-anaknya itu sudah memperlihatkan bahwa sudah mampu menahan emosi ketika ada mungkin mainan yang sudah terhambur, berantakan, terbongkar.

Ya, ada beberapa hal yang bisa jadi modal dan bekalnya. Yang pertama tentu tadi ilmunya. Kalau kita sudah punya ilmunya, kita jadi tahu dan kita tidak kaget dengan tadi misalnya mainan anak-anak terhambur di ruang tamu, ruang tengah, dan ruang-ruang semua ruang dalam rumah. Itu artinya anak kita ya ada dan anak kita sedang menikmati pengalamannya. Dan dengan belajar kita jadi tahu, kadang-kadang anak ingin mendapatkan pengalaman baru dengan cara mencoba, mencoba misalnya air ditumpahkan, mencoba sayur ditumpahkan, ada bagian-bagian yang dicoba, dan kita sebagai orang tua kadang-kadang perlu mencoba untuk memahami itu, sekaligus juga mengatur. Nah, tetapi kalau kita tidak punya ilmunya, kita bisa jadi marah, panik, mungkin bisa jadi punya perasaan-perasaan yang berlebihan. Kalau kita melihat suasananya seperti itu, kita jadi lebih siap. Ada saat anak marah, kemudian ada saatnya lagi anak tertawa, yang dalam rentang waktu yang berdekatan. Bisa jadi marah itu cuma sebentar lalu selesai dan langsung bisa beralih ke hal yang lain. Nah, itu kalau tidak punya ilmunya, kita akan sulit untuk menghadapi situasi seperti itu.

Maka tadi poin yang sangat penting dari bagian proses tadi adalah yang pertama ilmunya. Yang kedua, setelah ilmunya dimiliki, maka PR berikutnya adalah kita sebagai orang tua belajar menanamkan nilai-nilai yang setelah sudah kita dapatkan, sudah kita miliki dalam diri kita. Kita tanamkan dalam diri kita, apapun yang sudah kita pelajari, pengetahuan apapun, supaya jadi bekal bagi kehidupan kita. Karena harus diakui bahwa apa yang sudah dipelajari itu tidak serta-merta langsung menjadi perilaku. Seperti tadi misalnya orang tua ketika ingin memberikan pelajaran kepada anak, dengan belajar kita jadi tahu ternyata yang dipelajari anak tidak selalu kita ucapkan. Ada yang dilihat oleh anak, tidak pernah kita ucapkan, tidak pernah kita sampaikan apa pun, tapi mereka belajar dari perilaku kita. Dan itu bisa terlihat salah satunya di momentum Ramadan ini.

Misalnya sejak subuh atau sebelum subuh, sejak sahur, anak jadi belajar, oh ternyata orang tua itu bangun sebelum mereka. Setelah itu selain bangun, lalu dikenalkan dengan ada yang namanya sholat subuh berjamaah. Ketika melihat bapaknya berangkat ke masjid, anak jadi belajar, meskipun mungkin sejak anak belum ke masjid. Lagi anak jadi belajar, kalau subuh bapak ke masjid. Jadi itu menjadi pengetahuan yang terekam kuat dalam diri anak. Berangkat ke masjid, meskipun belum berangkat, besoknya diajak, biasanya lusa dan seterusnya diajak. Ini bagian dari proses mengenalkan. Dan ketika mereka melihat semua rangkaian itu, berangkat ke masjid, caranya berangkat ke masjid, ternyata melihat bapaknya persiapan dengan setelah sahur menggosok gigi, kemudian berwudu lalu berpakaian yang rapi, berangkat ke masjid, membawa ini, membawa itu, memakai ini dan itu, itu bagian dari proses yang nanti akan anak-anak lihat. Setelah pulang dari masjid, kemudian misalnya setelah pulang, kemudian di rumah melanjutkan zikirnya, lalu baca Quran, anak belajar, anak melihat orang tuanya melihat atau membuka Quran, termasuk ketika kalau kita di rumah punya perangkat komputer, biarkan anak melihat apa yang kita kerjakan, bisa lihat yang ditonton di layar komputer kita bukan game, yang bukan sibuk dengan main juga bukan nonton yang tidak bermanfaat, tapi yang ditonton ada kajian, ada materi yang bermanfaat untuk kesehatan, untuk pendidikan, untuk ini dan itu. Anak jadi belajar, oh ternyata orang tua memanfaatkan perangkat ini untuk belajar. Dan begitu seterusnya, sampai ketika menjelang berbuka, kemudian tarawih. Itu bagian dari proses yang biarkan anak berkesempatan untuk melihat dan mencerna hal-hal seperti itu. Masa sekali diajak ya, tetapi kadang-kadang belum tentu anak mau. Itu bagian dari prosesnya.

Allahu Akbar, jadi ini kalimat singkat saya mungkin adalah mengajar anak dengan qudwah. Jejak-jejak ketakwaan yang didapatkan oleh sang Bapak, sang Ayah ini memang harus diperlihatkan seperti itu, Ustaz ya.

Baik, Bapak dan Ibu yang dirahmati oleh Allah. Ada tadi kalimat Ustaz kita yang menarik, yaitu biarkan anak belajar membuat pengalaman pribadi mereka masing-masing. Mungkin mereka menumpahkan sesuatu atau hancurkan bahkan membongkar sesuatu. Bagi kita sebagai orang tua yang mohon maaf, misalkan belum mengetahui ilmunya bahwa begini kondisi sang anak, ya pasti kita akan marah, bahkan mungkin keluar kalimat-kalimat kasar. Saya ingin mengajak Bapak dan Ibu, responnya seperti apa? Siapa di sini yang sudah mulai merasakan jejak Ramadan dalam mendidik anak-anak? Misalkan mungkin sebelumnya masih ngegas dalam berkata-kata, sekarang sudah mulai menahan emosi dan kalimat-kalimat yang misalkan, Alhamdulillah di akhir Ramadan ini saya sudah mulai tenang, mulai bisa memahami kondisi anak-anak di rumah. Coba berikan responnya Anda dengan anak-anak yang ada di rumah, silakan. Sambil menunggu respon Bapak dan Ibu, kita jeda dulu, setelah jeda berikut ini saya akan kembali untuk Anda di Ramadan dan keluarga.

[Iklan Madu Zesmak]

Alhamdulillah, di mana kita belajar sebagai seorang tua, agar rumah tangga kita, bahkan kita posisi sebagai ayah atau bapak, bisa lebih baik daripada yang sebelumnya, khususnya dengan topik kita pada pagi hari ini, bagaimana jejak ketakwaan di Ramadan yang kita dapatkan ini bisa kita aplikasikan dalam pendidikan anak-anak kita. Untuk bapak dan ibu, silakan yang ingin sharing pertanyaannya, ketik nama Anda, kemudian domisili atau alamat, kemudian pertanyaan yang ingin disampaikan, dan silakan responnya tadi bagaimana muamalahnya di Ramadan ini dengan anak-anak, apakah ada perubahan dengan bulan sebelumnya? Kita sebelah sebulan, mohon maaf mungkin sebagian ada yang nuansa kehidupan yaitu mohon maaf ya misalkan kurang religi seperti itu ya, dengan keberadaan Ramadan kita dikondisikan dengan keadaan dan lingkungan, dan Alhamdulillah itu bisa berdampak ke karakter kita, kemudian ibadah kita, dan pastinya dengan anggota keluarga dan anak-anak yang ada di rumah. Silakan yang ingin open mic juga, Bapak dan Ibu, silakan angkat tangan atau raise hand.

Tayib, Ustaz. Sambil menantikan pertanyaan ini, respon dari Ibu Rahmat, "Alhamdulillah anak-anak juga lebih mudah diarahkan ketika diingatkan pahala di bulan Ramadan." Masya Allah. Dari Ibu Amran, Bapak Amran, "Alhamdulillah lebih bersabar menerima hasil dalam mendidik anak." Masya Allah. Ini sudah terasa bahwa Ramadan itu betul-betul, kalau tidak salah, ada istilahnya syahr taghyir, bulan perubahan. Meskipun perubahan itu ya dimulai dari Rajab dan Syakban ya, karena Ramadan ini adalah momen perlombaan.

Ustaz, pertanyaan apa saja sebenarnya nilai utama Ramadan yang perlu ditanamkan kepada anak-anak kita sejak dini?

Kalau kita membahas terkait dengan Ramadan dan pendidikan anak-anak, ada beberapa nilai yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak. Antara lain yang pertama, kita kenalkan dengan yang namanya ta'zim terhadap syariat, mengagungkan, memuliakan syariat yang Allah telah tetapkan pada kita semua. Kita merasakan kehadiran bulan Ramadan sebagai sesuatu yang luar biasa. Nilai ini perlu kita hadirkan, termasuk nilai kegembiraan. Kita gembira dengan datangnya bulan Ramadan, lalu mereka merasakan suasana bahwa orang tua, baik bapak dan ibunya, juga merasakan kegembiraan ketika masuk bulan Ramadan, karena dengan bulan Ramadan kita berkesempatan melakukan banyak perubahan-perubahan dalam kehidupan kita, perbaikan-perbaikan yang mungkin selama di luar Ramadan kadang-kadang agak sulit. Saya maaf-maaf, sebagian kita mungkin kalau di luar Ramadan susah bangun sebelum subuh, sekarang jadi mulai terbiasa apalagi sudah berjalan 22 hari, masuk ke hari 23 dan besok 24 dan begitu seterusnya. Akan merasakan kemudahan yang dibandingkan kalau kita berada di luar Ramadan.

Kemudian yang kedua, kita juga jadi belajar bagaimana membiasakan untuk disiplin. Jadi terbiasa ada jadwal waktu sahur dan itu nggak bisa dilanggar. Artinya kalau sudah yang namanya azan, tidak mungkin terus makan sampai komat dan seterusnya. Tidak mungkin kita melakukan itu, karena ini memang terikat dengan aturan-aturan yang berhubungan dengan waktu, maka kita jadi berjalan disiplin. Berbuka juga begitu. Kita lihat waktu berbuka, kurang 2 menit, kita tuh tidak ada di antara kita yang berani mengambil makanan, minuman, meskipun bisa dilakukan, karena kita terikat dengan aturan-aturan yang ada. Nah, kita belajar disiplin, belajar bagaimana menempatkan setiap waktu dengan pekerjaan tertentu, dan akhirnya kita jadi terbiasa mendisiplinkan diri kita.

Yang ketiga, yang kita juga bisa belajar selama Ramadan, dan ini bisa ditularkan kepada anak-anak, juga belajar kesabaran. Yang namanya lapar, yang namanya haus itu sebuah ujian. Dan ketika tiba waktunya kepingin makan tapi belum boleh makan, kepingin minum tapi belum boleh minum, maka kita semua belajar bersabar. Nahan dan nanti nahan lagi sampai kapan? Ada batasnya, batasnya hanya sampai maghrib. Setelah itu silakan memakan, minum, begitu seterusnya. Jadi belajar kesabaran. Dan ini penting untuk kesehatan mental kita, karena dengan kita belajar kesabaran, kita jadi belajar beberapa nilai-nilai yang itu sangat mahal bagi kehidupan kita. Bayangkan kalau anak-anak kita juga sekaligus belajar kesabaran. Dan nilai itu dijadikan bekal untuk kehidupan mereka di masa yang akan datang. Sebab apa? Dalam kehidupan kita, sabar itu sebuah keniscayaan yang harus

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini